Sejarah mencatat dengan tegas betapa besar kerugian yang diakibatkan peledakan
bom atom di Hirosima dan Nagasaki bulan Agustus 1945. Ribuan jiwa melayang
seketika, ribuan orang cacat seumur hidup, ribuan anak-anak kehilangan ayah dan ibunya,
ribuan rumah hancur luluh lantak. Einstein, salah seorang kontributor rumus canggih
yang digunakan untuk mencipta bom atom, menyesal sekali,”Andai saya tahu rumusan
saya akan digunakan untuk mencipta bom yang menghancurkan seperti itu, akan lebih
baik kalau saya bekerja sebagai tukang sepatu. Tidak mau saya menjadi ilmuwan
semacam ini.”
Kita bisa mengajukan pertanyaan,”Apakah para jenderal yang memimpin perang
waktu itu mengerti cara membuat bom atom? Apakah para jenderal itu sepintar atau lebih
pintar dari Einstein yang merumuskan teorinya ?” Tidak, para jenderal tidak akan sehebat
Einstein. Tetapi, yang pasti para jenderallah yang memegang kendali untuk menjatuhkan
bom atau tidak. Para jenderallah yang memegang power.
Bom atom hanyalah salah satu “gambaran” power yang diciptakan manusia yang
ternyata dapat mengakibatkan kerugian besar. Tidak semua power bersifat negatif. Roda adalah power yang memudahkan manusia untuk transportasi. Listrik adalah power yang
memungkinkan tingkat kehidupan menjadi lebih baik. Senapan adalah power yang
membantu manusia untuk berburu. Bahkan bom atom – energi nuklir – pun adalah power
yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi untuk kemaslahatan umat manusia.
Isunya bukanlah power itu baik atau jelek, tetapi apakah power itu dimanfaatkan
secara cerdas atau tidak. Senapan, pedang, bom, komputer, Internet, perusahaan,
kekayaan, semuanya bisa menjadi baik bila dimanfaatkan secara cerdas. Namun itu
semua juga bisa menjadi sesuatu yang berbahaya bila dimanfaatkan dengan tidak cerdas.
Power Intelligence, kecerdasan kekuatan, adalah elemen kunci ketiga dari matahari sePia,
yang akan kita diskusikan pada bagian ini.