
Dia adalah seorang wanita. Perawakannya pendek. Berusia tiga puluh tahunan. Wajah tidak cantik, tidak pula jelek. Perilakunya lembut dan sopan, seperti yang dicerminkan bahasa Sunda yang sopan. Agak sedikit gemuk. Nasibnya sepertinya tidak terlalu baik, kalau diukur dengan ukuran kebahagiaan saat ini di Indonesia. Tinggalnya pun di salah satu daerah terpadat di dunia, di Indonesia maupun di Bandung. Dia selalu tersenyum, namun tidak tertawa terbahak – bahak. Tidak nampak guratan – guratan duka cita di wajahnya yang bulat dan dipenuhi dengan kebahagiaan dan Ketenangan itu. Saya mengenalnya dari dulu, karena dia bekerja demikian ama di keluarga kami. Dia terlahir di keluarga yang tidak mampu, dan nasib pula yang membawanya untuk menikah dengan seorang laki – laki yang kurang mampu pula. Suaminya bekerja sebagai penarik becak. Sehari – hari dia tinggal di rumah kumuh yang berukuran sekitar 10 meter persegi, berlantaikan tanah atau semen, bersama seluruh anak – anaknya. Pada suatu hari , dia bercerita bahwa dia sering tidak makan hingga beberapa hari , dan dia agak sedikit bersedih ketika dalam keadaan itu petugas penarik zakat dari rukun tetangga setempat tetap memaksa dia untuk membayar zakat, sehingga uang satu – satunya yang tinggal seribu perak direbut atas nama “zakat”. Dan dia selalu menceritakannya dengan senyum dan seraya memuji Tuhan ..
Dia juga bercerita bahwa suaminya memiliki dua istri. Dia adalah yang pertama. Dan hubungannya dengan istri kedua suaminya cukup baik. Tidak pernah bertengkar. Tidak juga berebut. Mungkin juga karena tidak ada yang harta yang diperebutkan. Dan, kata dia “untuk apa kita berebut … yang itu…., malu ah”. Tidak ada tangis, tidak juga drama – drama yang menyedihkan seperti halnya yang ada dalam sintetron. Semuanya terjadi begitu saja. Dan , dia selalu menceritakannya dengan senyum dan seraya memuji Tuhan.
Dengan kemiskinannya yang sangat, Tuhan menganugerahi dia tujuh orang anak. Dan di tengah jalan empat dari yang tujuh itu kembali diambil oleh Yang Maha Kuasa. Dari tiga yang masih ada, dia mengisahkan, satu anaknya, yakni yang terpandai, jatuh dari pohon, dan kepalanya tertancap batu. Dia menggendong anaknya naik angkutan kota
untuk berobat. Dan, sembuh. Namun menjadi idiot. Dia menceritakannya tanpa rasa sedih
yang berlebihan, dan seraya memuji Tuhan. Setelah sekian tahun, ternyata kepandaian
anaknya pulih kembali. Dan dia pun tetap tenang, tenteram seraya memuji Tuhan.
Dengan kemiskinan dan nasib kurang baik yang selalu menyelimuti dirinya,
ternyata dia didatangi pula oleh para virus . Dia dinyatakan menderita penyakit Hepatitis.
Badannya bengkak- bengkak. Kebetulan , di rumah , kami menanam daun jarong. Dia
meminumnya secara rutin, dan badannya menjadi agak pulih. Namun, dia menjadi cacat; tidak mampu bekerja dengan keras. Tapi , saya tidak pernah mendengar tangisnya atau
keluhannya. Walaupun ia sering datang ke rumah kami dengan terengah – engah dan
tubuh yang akan bengkak, namun yang satu itu rupanya tidak pernah muncul dari
mulutnya, - yakni-, keluhan. Keluhan dan dirinya benar – benar telah berpisah seperti
minyak berpisah dengan air. Mungkin di hatinya juga tidak pernah muncul keluhan.
Seperti apa yang sering dikatakannya tentang syukur dan terima kasih kepada Tuhan.
Memang, nasib baik belum kunjung menjumpainya. Suami tercintanya yang
miskin dan beristri dua ini pun terkena penyakit usus buntu. Setelah operasi usus buntu,
suaminya juga menjadi setengah invalid (cacat), sehingga hanya mampu menarik becak
dengan penghasilan kira – kira dua ribu rupiah per hari. Dan , dia kembali
menceritakannya dengan datar tanpa isak, seraya kembali memuji Tuhan.
Sampai saat ini, dia masih hidup, dengan senyum ceria; dan bekerja membantu
mengasuh anak tetangganya yang cacat dengan penghasilan seratus ribu rupiah per bulan.
Tapi dia adalah dia. Selalu tersenyum, tenang dan damai. Seolah baginya seluruh sapaan
angin dan kucuran air sumurnya adalah nikmat – nikmat yang senantiasa harus disyukuri.
Dia melengkapi pula keadaannya dengan ketidakmampuannya membaca dan
menulis, karena dia kurang beruntung, tidak mendapatkan kesempatan sekolah yang
layak.
Kadang – kadang saya tidak habis pikir, mengapa saya yang belajar agama,
filsafat dan ilmu demikian banyak tidak mampu meniru seperseratus kesabarannya ?
Kadang – kadang saya tidak habis pikir, dari mana dia mampu belajar mengendalikan
seluruh keinginan dan persepsinya, sehingga ia tetap hidup dengan optimisme dan ikhtiar
dengan seluruh cobaan yang menimpa hidupnya ? Namun bagi saya , dia adalah guru
bagi saya dan keluarga saya; guru spiritual yang sejati. Guru yang tidak pernah
mengajarkan satu pun ayat ataupun proposisi; namun seluruh hidupnya adalah contoh
yang harus kami renungi setiap saat dan setiap waktu. Guru yang tidak akan dan semoga tidak pernah akan merasa dirinya adalah guru
Ingin memesan Sepia ? Klik di sini.
E-Book tentang 5 kecerdasan manusia dalam meraih bahagia dan sukses (IQ, EQ, SQ, PQ, AQ).
