
Kata kekayaan (affluence) berasal dari kata dasar “affluere” yang artinya
‘mengalir ke.” Kata affluence berarti “mengalir secara berlimpah.” Uang
sesungguhnya suatu simbol energi kehidupan yang kita tukarkan dan energi
kehidupan yang kita gunakan sebagai hasil jasa yang kita berikan pada semesta.
Kata lain uang (money) adalah “currency,” yang juga merefleksikan sifat aliran
energi. Kata currency berasal dari bahasa Latin yaitu “currere” yang berarti
mengalir.
Oleh karena itu, jika kita menghentikan sirkulasi uang – jika kita bermaksud
menyimpan uang serta menimbunnya – karena uang adalah energi kehidupan,
berarti menghentikan sirkulasi-balik dalam kehidupan kita juga. Supaya energi
mengalir pada kita, kita harus tetap menjaganya terus bersirkulasi. Seperti sungai,
uang harus dijaga agar tetap terus mengalir, bila tidak ia akan mulai berhenti,
membeku sehingga mengganggu arus sirkulasi dan menyebabkan rusaknya
struktur kehidupan kita sendiri. Sirkulasi harus diupayakan tetap hidup dan vital. “
Kerendah-hatian untuk Tidak Cepat Menilai
Statistik menunjukkan bahwa di antara berbagai masalah, ternyata yang nyata
merupakan masalah hanya 7 %, sisanya (93 %) adalah masalah yang diciptakan oleh
“kecerdasan” manusia itu sendiri. Bagaimana pikiran kita menilai sesuatu itu tidak baik,
sesuatu itu tidak seharusnya begini atau begitu, seringkali teramat subyektif , dan oleh
karena itu tidak valid. Keterbatasan fikiran manusia , membuat banyak simpulannya
bersifat relatif.
Seseorang yang memiliki kecerdasan spiritual tinggi, yang memancarkan sinar
matahari Sepia, tidak cepat terjebak oleh kerangka penilaiannya sendiri atas semua
peristiwa yang menimpanya. Lihat kasus penilaian berikut ini : Evelyn adalah seorang wanita yang berparas cantik. Masih, sedikit memiliki
keturunan Cina dan maka wanita Indo-Cina ini menggabungkan kecantikan Cina
dan kesederhanaan Indonesia. Evelyn bernasib cukup baik, berhasil
menyelesaikan kuliahnya dari suatu universitas yang terkenal di Bandung.
Segera setelah lulus kuliah, Evelyn menikah. Ia menikah dengan seorang
sarjana cerdas dari universitas lain yang terkenal juga di Bandung. Suaminya amat
mencintainya, dan pekerja keras. Tergolong cukup santun dan berpenampilan,
Evelyn pun sangat mencintai suaminya.
Segera setelah menikah, tanpa terasa setahun pun waktu telah berlalu. Karena
suami Evelyn amat mencintainya, maka ia melarang Evelyn untuk pergi bekerja.
Dia ingin Evelyn mengandung anak – anaknya dan mengasuh anak – anaknya
dengan baik. Di sisi lain, karena menghadapi situasi ketidaktentuan krisis yang
demikian hebat, suami Evelyn bekerja siang dan malam tidak kenal lelah.
Evelyn sebagai seorang yang tadinya aktif bergaul, kini mulai mengisi hari –
harinya dengan siaran sinetron dan sepi yang mulai menggigit. Terkadang ia
merasa lesu dan tak bergairah. Apalagi bila mulai jam 17.00 ia menunggu-nunggu
kehadiran suaminya yang tak kunjung tiba. Akhirnya terpaksa pada jam 19.00 an ,
Evelyn makan sendiri tanpa teman. Dan tertidur di sofa sambil melihat TV. Ia
nyaris – nyaris tak kuasa bangun ketika mendengar bel rumah kontrakannya
berbunyi jam 22.00. Suaminya pulang.
Sambil menahan kantuk Evelyn membukakan pintu , dan ia pun berkata pada
suaminya bahwa “… sudah lama saya menunggu, sampai tertidur.” Tak kuasa
menahan kantuk Evelyn ngeloyor pergi ke kamar tidur. Suaminya, sambil
menahan capek, dengan sedikit bingung mengurus dirinya sendiri. Dia pulang
dengan banyak permasalahan yang ingin dicurahkannya pada istrinya. Namun,
siapa tahu istrinya demikian mengantuk untuk mendengarkannya. Kejadian – kejadian yang mirip pun berulang selama nyaris setahun. Evelyn
mulai merasa, ada sesuatu yang hilang dan menyiksa batinnya. Suaminya pun
mulai merasa, ada sesuatu yang hilang dan menyiksa batinnya. Evelyn mulai
berpikir, bahwa, kenapa kini setelah nikah suaminya tidak pernah mengajak
kencan lagi sesering dulu waktu sebelum menikah, kenapa kini segalanya mulai
berlangsung hambar dan mekanistis tanpa romantisme, kenapa bunga – bunga
asmara yang menggebu nampaknya mulai layu. Suaminya pun mulai berpikir,
bahwa, kenapa kini Evelyn tidak semenggebu-gebu dulu kalau menyambutnya
pulang kantor, dan tidak lagi tampil prima dan cantik seperti dulu pada saat
sebelum menikah; dan yang paling menyedihkan adalah seolah istrinya tidak
tanggap dengan berbagai permasalahannya di kantornya, khususnya pada saat –
saat ia sangat membutuhkannya.
Ekonomi pasangan muda itu meningkat perlahan – lahan , namun dalam benak
dan pikiran masing – masing, terdapat benih yang amat menakutkan. Masing –
masing “menilai” pasangannya dari sudut pandang “kekurangannya”, dan dalam
jangka panjang, asmara yang dibangun akan menjadi retak; sehingga keutuhan
rumah tangga hanya dipertahankan karena kepentingan ekonomi, sosial dan
kepentingan anak – anak, bukan karena asmara yang murni dan tulus sebagaimana
semula. Pasangan Evelyn dan suaminya ini terus berjuang melawan kerasnya arus
kehidupan, dengan ujian dan cobaannya, namun terus berusaha mempertahankan
“penilaiannya”. …….. Alangkah banyaknya pasangan yang saling mencinta seperti
ini memasuki suatu kehidupan setelah pernikahan yang seperti neraka, dan tidak
jarang diantaranya berakhir dengan perceraian. Di negara – negara Barat, angka
perceraian menyentuh 50 %.
Dua orang yang baik dan jujur, masing – masing memiliki pemikiran dan keinginan yang
wajar sebagai manusia, akhirnya terpaksa menempuh jalan hidup sendiri – sendiri, hanya
karena masing – masing merasa bahwa “penilaiannya” adalah paling benar. Terpenjara
dalam keterbatasan “penilaiannya”. Alangkah baiknya bila Evelyn memulai penilaiannya dengan keyakinan bahwa suaminya
melakukan segalanya demi cintanya pada dirinya dan keluarganya dan sebaliknya
suaminya pun memulai penilaiannya dengan keyakinan bahwa istrinya pasti
mencintainya sepenuh hati seperti semula dan apa yang menyebabkan ia mengantuk dan
kurang merespon sehingga ia bisa membantu mengatasinya. Mungkin akhir dari kisah ini
akan jauh berbeda bila pasangan muda ini bisa merendahkan dirinya dengan tidak
membiasakan melakukan penilaian sesuai dengan pikiran dan keinginan masing –
masing.
Kemampuan mengendalikan fikiran untuk tidak segera stres dan bersedih karena sesuatu
yang tidak sesuai dengan penilaian seseorang menunjukkan tingginya kecerdasan
spiritual dalam diri orang tersebut. Tuhan Maha Indah dan menciptakan segala sesuatu
Indah. Dan tidak ada apa pun yang terjadi, “sejelek apa pun” menurut penilaian kita,
kecuali atas Ijin Nya jua.
Keadaan menjadi semakin rumit ketika seseorang telah merasa memiliki penilaian yang
benar berdasar Hukum Tuhan, berdasar Kitab Suci atau berdasar Wahyu yang ia yakini.
Misalnya, “Kenapa keadaan di masyarakat saya dipenuhi maksiat, sehingga hampir tidak
ada seorang pun (kecuali saya ?) yang lolos dari maksiat?” Penilaian orang “yang merasa
dirinya saleh” ini, sering akan memenjara dirinya dalam jurang derita tanpa akhir
berkepanjangan.
Beberapa hal yang layak kita pertimbangkan sebelum menilai perbuatan orang lain
sebagai baik atau buruk misalnya adalah
. Apakah kita mengetahui konteks perbuatan orang itu ?
. Apakah kita mengetahui masalah – masalah yang sedang dihadapi orang itu ?
. Apakah kita mengetahui apa yang sebenarnya diharapkan orang itu dari
perbuatannya ?
. Apakah kita mengetahui sistem pemikiran orang itu secara menyeluruh ?
Bila kita tidak mampu menjawab dengan yakin keempat pertanyaan tersebut mungkin,
memberikan ruang bagi setiap individu lain untuk berbuat sesuai dengan keinginan,
pikiran, konteks dan masalah mereka sendiri adalah salah satu tanda tingginya kecerdasan
spiritual.
Kebiasaan untuk selalu secara sentralistik menilai kejadian dan perbuatan orang lain
dengan ukuran – ukuran subyektif kita akan menyebabkan banyak hal yang sebenarnya
bukanlah masalah menjadi masalah, seperti halnya hasil survey di atas, bahwa dari semua
masalah yang ada yang benar – benar merupakan masalah hanyalah 7 %.
Gabung Sekarang Juga. Info Hub : 0818 059 44005 atau mujayanto@gmail.com
Comments »
The URI to TrackBack this entry is: http://usaha.blogsome.com/2006/06/20/penggalan-sepia-5/trackback/
No comments yet.
RSS feed for comments on this post.
Leave a comment
Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>
Peluang Bisnis
Kami tawarkam kerjasama dengan anda. Siapapun anda, untuk menjadi Dealer atau Agen kami. Dengan syarat mudah dan keuntungan yang sangat menggiurkan. Untuk agen dengan garansi 100 % uang kembali (3 Bulan).
Syarat :
- Memiliki Nomor HP yang aktif (AS, XL, Im3) yang belum didaftarkan pada sistem voucer elektrik manapun.
- Untuk Dealer,Biaya Pendaftaran Rp 250.000,- dan deposit awal Rp 1.000.000.
- Untuk Agen,Biaya Pendaftaran Rp 50.000,- dan deposit awal Rp 50.000.
- Untuk Dealer sebaiknya memiliki Account BCA (Untuk memudahkan pengiriman deposit).
- Untuk Dealer, Memiliki 5 agen aktif (melakukan transaksi minimal 1) tiap bulan.
- Berminat hub : Mujayanto Telp : 0818 059 44005, E-mail :mujayanto@gmail.com
- Untuk agen, garansi 100 % uang kembali (3 Bulan).
- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
Di cari
Afiliasi untuk E-Book S E P I A
E-Book tentang 5 kecerdasan manusia dalam meraih bahagia dan sukses (IQ, EQ, SQ, PQ, AQ).
