Intelectual Intelligence

Didorong keinginan untuk meraih cita-cita manusia menggunakan kecerdasan ketiga,
yaitu kecerdasan yang berkaitan dengan proses mewujudkan, proses penciptaan. Inilah
karunia kecerdasan intelektual (Intelectual Intelligence), yaitu kecerdasan yang
berhubungan dengan kemampuan manusia untuk belajar dan menciptakan sesuatu.
Sebagian orang menyebutnya sebagai bakat. Memang setiap orang dikaruniai kelebihan
berbeda-beda dalam kecerdasan intelektual ini. Istilah yang populer adalah IQ yang
berbeda. Sebagian orang memiliki bakat lebih di kemampuan logika matematika.
Sebagian lain lebih condong ke seni atau bahasa. Bahkan ada yang cenderung dalam
pengolahan fisik. Semuanya berhubungan dengan kemampuan belajar dan penciptaan.

Yang kuat matematika seperti Einstein lebih mudah untuk memahami persoalan
matematika, memecahkan persoalan, bahkan mendefinisikan problem matematika.
Kekuatan Einstein ada pada kemampuan belajar dan penciptaan di sekitar masalah
matematika. Di lain sisi, seorang Michael Jordan adalah orang yang memiliki bakat di
bidang olahraga. Dia dengan mudah menguasai suatu permainan basket (kemampuan
belajar) dan bisa tampil di pertandingan dengan luar biasa (kemampuan penciptaan).
Michael Jordan memiliki kecerdasan intelektual yang berbeda dengan Einstein.
Manusia menyadari bahwa Tuhan memberi karunia berbeda-beda kepada setiap orang.
Semua karunia kecerdasan penciptaan ini memiliki potensi sama, dikembalikan kepada
manusia untuk mampu menggunakannya dalam meraih cita-cita. Akhirnya kita dapat
melihat orang meraih sukses dengan berbagai cara yang berbeda. Ada yang melalui karya
teknologi, ada yang melalui olah raga, dan ada yang melalui kreatifitas seni.